19 September 2017

Dimana Bahagia Itu ?




Sejak menikah, kebiasaan menarik dan seringkali daku lakukan (kadang-kadang) adalah kepo'in kehidupan berumahtangga orang lain.
Lho ? Kok ? Astaghfirullah.. Bukan yang aneh2 lho yaa..
Maksudnya gini, jadi pemerhati jarak jauh,untuk niat baik saja,
untuk pembelajaraan buat diri sendiri kok..
Suka jadi pemerhati bersama suami, dan seringkali jadi bahan diskusi di waktu luang karena kami ingin ambil hikmahNYA.
Tujuannya agar supaya tambah bersyukur dan terus berusaha memperbaiki kondisi diri sendiri

Contohnya, sehabis ketemu teman lama suami, seorang wanita karier sukses, kepala cabang sebuah bank di satu wilayah di Jakarta. Tapi belum juga ketemu jodohnya. 

Ndilalah suatu hari ketemu anak muda yang usianya lebih muda beberapa tahun darinya. Tipe cuek, antimainstream, entrepreneur pemula yang slebor, jujur, apa adanya, tapi masyaAlloh pemahaman agamanya cukup bagus hingga bisa menjawab pertanyaan2 dan kegalauan si mbak ini tentang arti kehidupannya.
Singkat kata, karena merasa klop, akhirnya mereka menikah.
Si mbak resign dari kantornya, meninggalkan jabatannya, mulai dari nol membantu suami merintis usaha kerajinan di daerah, bahkan mereka memutuskan tinggal diluar Jawa !
Bahagiakah mereka ? Wah, kami berbaik sangka.. InsyaAlloh iya.
Dikaruniai 3 putra putri yang manis dan dari foto-foto di akun facebooknya, tercermin senyum yang lepas dan sorot mata berbinar dari keluarga ini. Alhamdulillah, sampai sekarang

Kemudian kisah selanjutnya adalah tentang pasangan sahabat yang jarang bertemu, tapi semoga selalu dekat di hati.
Suami istri ini punya andil besar dalam perjalanan hidup kami, keikhlasan mereka membantu suami saat merintis usaha di Jogya dulu, dari awal mendampingi di masa sulit, sampai saat ini, support yang mereka lakukan tetap sama.
Mas dan mbak ini awalnya teman organisasi, dan si mbak yang baik hati ini selalu jadi teman curhat mulai dari masalah kuliah, aktivitas kampus, hingga curhat2 pribadi lainnya. Lama2 si Mas-nya sadar, bahwa belio kok ternyata merasa ketergantungan yaa sama si Mbak ini, hehe..
Ya sudah, menjelang akhir kuliah, belio berdua bersepakat untuk menikah.
Hidup bahagia di kota yang mempertemukan mereka, berputra 3 orang ^ehm.. btw kok putranya 3 terus yaa dari tadi ? *lol
Sekilas mata memandang, penampilan si Mbak sangatlah sederhana dan apa adanya, beliau berasal dari keluarga sederhana pula.
Tapi jangan tanya soal kebaikan hatinya, seluas samudera
Sedang si Mas, bisa dibilang cukup cemerlang di masa itu.
Banyak yang terkejut dengan keputusan beliau berdua. Tapi sudah jodoh dan keduanya ikhlas menjalaninya, seiring berjalannya waktu terbukti bahwa perjodohan belio berdua adalah yang terbaik.
Keduanya bisa saling mengisi dengan kelebihan dan kekurangan masing2.
Sekali lagi, hasil #kepo dan perenungan tentang ini, membuat saya terharu deh !

Ada lagi ?
Kebetulan masih family jauh,
Menikah dengan sesama teman lama sejak SMA, pasangan ini berputra 4 orang. Tinggal di kota kecil. Suaminya bekerja sebagai seniman. Melukis, memahat, membuat aneka kerajinan dan kerja apa saja dilakoni. Si mbak juga ikut aktif bekerja sebagai petugas penyuluhan kesehatan dan posyandu.
Standar kehidupan sederhana, kekurangan tidak, tapi berlebih pun tidak, biasa saja. Yang mengharukan, beliau berdua punya visimisi yang sama dalam menentukan pendidikan anak.
Kompak dan satu kata, anak2 harus bersekolah di ponpes.
Tapi untuk sisi kehidupan lainnya, Qodarullah jodoh belio berdua tidak panjang.
Setelah akhirnya memutuskan berpisah baik2, kini sang Mbak hidup bersama anak2nya, dibesarkan anak2nya dengan keshabaran dan diupayakan rezeki yang halal untuk mereka.
Kini sudah 2 putra yang lulus ponpes, bekerja sambil kuliah.
Bahagiakah mereka ?
Walau tidak se-ideal keluarga lainnya, namun saya berbaiksangka mereka bahagia.
Betapa sayang dan perhatian putra putri pada Ibunya, kadang menerbitkan keharuan melihat keluarga sederhana ini,
bukankah doa anak2 yang shalih yang kelak akan menjadi amal jariyah yang tak terputus mengalir bagi manusia ?
Semoga ALLOH selalu merahmati mereka

Kalau menelisik kisah murid2 suami lebih beranekaragam lagi.
Ada Anak muda yang ketemu istrinya karena makan di warung dan sang istri kebetulan keponakan pemilik warung yang ikut membantu disana.
Si istri ini membantu sebagai pengabdian ke paman bibinya, syukur2 dapat untuk tambahan uang saku kuliah walau bukan jadi prioritas utamanya.
Tapi jika lihat sekarang, nggak sangka deh si istri ini dulunya pelayan di warung.
Dia ibu muda yang shabar dan penyayang pada anak2nya, cantik sekali, baik sekali dan Alhamdulillah karena kondisi usaha mereka terus membaik, bisa dilihat juga penampilannya pun semakin menarik dipandang mata
Bahagiakah mereka ? InsyaaAlloh iyaa.. mereka masih sering berkirim salam pada kami, dan hampir tiap lebaran sempatkan mampir kerumah dengan putra putrinya yang terus bertambah jumlahnya setiap tahun ! Hehhehe...

Satu contoh,
Ada juga yang murid yang menikah dengan teman lamanya sejak SMP. Lulus SMA langsung menikah - alasan si suami : dilamar aja, takut diambil orang
Jatuh bangun perekonomian rumahtangga mereka alami bersama.
Kini berkat keuletan dan keshabarannya, usaha mereka semakin membaik.
Dari mulai merintis usaha ternak, tinggal di kampung daerah pegunungan yang ndeso dan jauh dari mana2, mengalami masa dikejar debt collector, sampai akhirnya kini mulai menanjak kembali.. Semua dilalui bersama.
Bahkan ketemu lebaran kemarin, berputra 5 orang tapi si istri kok yaa semakin muda saja kelihatannya ! Alhamdulillah yaa..
Kalau kata suami saya : insyaAlloh kehidupan mereka semakin bahagia

Dari semua contoh di atas, kesimpulan saya : jodoh itu benar2 rahasia ALLOH
Berjodoh dengan seseorang jika kita mau menerima segala kelebihan dan kekurangannya karena ALLOH - akan menempa kita untuk siap menghadapi bentuk kehidupan apapun kedepannya
Kalaupun jalan cerita jauh dari harapan - mungkin memang ALLOH inginkan hambaNYA jadi orang yang shabar.
Nggak apa bershabar sebentar sepanjang hidup, toh katanya hidup ini cuma sebentar kan ? Hanya sementara.. Bismillah..

Sambil terus menasehati diri : Jangan lupa, bukan hanya kesulitan dan kesedihan yang jadi cobaan pernikahan,
Kesenangan, kegembiraan bahkan kemurahan rezekiNYA, itu pun sejatinya adalah cobaan juga - yang harus terus didoakan, disyukuri dan dicari hikmahNYA untuk pembelajaran kita ke depannya.
Dan bila ditanya dimana bahagia itu ?
Pada hakekatnya bila kita mau terus belajar mengejar keridloan ALLOH, maka kita akan temukan bahagia yang sejati.
Itulah bahagia yang kekal, hingga akhir nanti.
Maka memang benar, bila ada ungkapan, bahagia itu sederhana saja.

Merenungi nasehat salah satu kakak ipar saya : bahwa bahagia itu bukan harus jauh mencarinya, tapi jika kita bisa mengelola kehendak diri, mau beramal, berbagi dan mau bersyukur terhadap apapun keadaan kita, maka disitulah bahagia ada !
Lalu, apakah saya sudah bahagia ? Alhamdulillah iiyaa...

Dan Bismillah, saya memutuskan untuk terus belajar menjadi bahagia


Semoga ALLOH meridloi dan kami pun selalu bersyukur,
Atas segala keberkahanNYA dunia - akhirat, aamiin3x Yaa Rabb.

Tidak ada komentar: