25 September 2017

Bu Sadinem





Ini kisah sekitar bulan Maret tahun 2015, waktu saya masih sibuk wira wiri kampus Salemba hampir setiap hari. Saat itu baru sadar jika sudah beberapa minggu punya foto ibu Sadinem yang tersimpan di ponsel jadulku Maka jadilah berbagi cerita ini.
 
Bu Sadinem yang ramah dan murah senyum, beliau seorang ibu yang grapyak, ulet dan sederhana.
Sehari-hari berjualan jamu dan aneka sarapan yang sudah siap dikemas praktis - ada nasi uduk, nasi kuning, nasi pecel, lontong sayur, komplit dengan kerupuk atau peyek teri/kacang, tinggal pilih. lokasinya di bawah pohon rindang persis di depan gedung Pascasarjana UI Salemba.

" Saya aseli Kutoarjo. sejak tahun 70'an saya jualan disini mbak, kalau suami saya jualan bakso, dibelakang kantin MM-UI dekat parkiran sana lho..
Alhamdulillah setiap hari habis. Kalau disini saya jualan sampai jam 10-11 saja, sesudah itu pulang. Kebetulan rumah saya juga ndak jauh, masih di salemba sini," ceritanya sambil meramu jamu kunyit asem yang saya pesan.

" Setiap hari habis bu jualannya ? Alhamdulillah yaa.. "
" Biasanya kalau ndak habis, tak bawa ke RSCM Alhamdulillah habis mbak, banyak keluarga pasien yang cari makan.
Jualan saya murah2 kok, jadi yaa banyak yang beli,"

Iya sih.. Nasi pecel komplit dengan tempe bacem, 7000 rupiah sudah kenyang. Sambelnya mantep juga, lumayaanlaah.. Dan sedari tadi banyak mahasiswa mahasiswi yang menghampiri bu Sadinem, beli sarapan, beli jamu - semua dilayani, di sapa dengan ramah.

" Setiap jam 9 nanti saya ke bank BNI, terus ke gedung2 admin yg dalam, sering juga karyawatinya akhirnya pesan jamu, kan mereka kerja jadi nggak sempat kesini, yaa ndak papa saya yang kesana.
Alhamdulillah sudah banyak yang jadi langganan, "

Ya ya buu.. Rezeki memang harus dijemput kan yaa
Dari hasil ikhtiar dan kesabaran menabung penghasilannya, bu Sadinem yang berputra 2 orang bisa membeli rumah petakan di sekitar Salemba, dari sepetak jadi bertambah 2-3 petak. Ada yang dikontrakkan pada karyawati2.
Anak2nya sudah mentas semua, bahkan ada yang lulusan D3 FISIP UI.

" sekarang kerja di rektorat, naik kereta ke Depok setiap hari. Alhamdulillah.. Cucu saya kemarin juga diterima mbak, di jurusan Perpustakaan UI. Saking senangnya saya belikan motor untuk kuliah. Dia juga suka antar siMbahnya ini belanja bahan2 dagangan ke Pasar Senen," katanya tersenyum.
Waaahhh, Alhamdulillah yaa..

Menuntaskan tegukan jamu terakhir, lalu saya pamit. Sebentar lagi masuk kuliah.
" Bu, doakan saya yaa.. Semoga dimudahkan dilancarkan semua ikhtiar saya yaa bu, "
Bu Sadinem mengangguk..
" iya mbak, saya doakan insyaAlloh paringi lancar, aamiin,"

Ringan terasa langkah saya, masyaaAlloh.. tak terduga pagi2 sebelum masuk kuliah pun sudah dapat hikmah.. Fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi baan...
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ?


Jadi memang BENAR sekali bahwa rezeki yang halal turut menentukan keberkahan dalam menjalani hidup. Dan sejatinya, bukan jumlah yang signifikan penentu kebahagiaan itu - tapi hati yang lapang oleh rasa bersyukur

Tidak ada komentar: