03 September 2008

Tulus Tanpa Batas

Pukul 23.00 WIB jelang tengah malam..

Beberapa jam lalu..
Sedang asik2 onlen di depan komputer tiba-tiba lhoh kok banyak sms masuk!
Membaca pesan-pesan yang masuk..
Duuh.. ada yang nggak beres niih..
Sedikit pe er yang harus dibenahi..
Tapi kok saya jadi tercenung.. dan mulai air mata saya menetes satu demi satu..

Coba kalo saya ada dalam posisi orang lain yang tidak senyaman posisi saya sekarang, bisa tidak kira-kira saya berpikir jernih ?
bisa tidak saya sekuat diri saya (saat ini, dalam posisi saya) ?
bisa tidak saya optimis dan bersikap tenang ?
bisa tidak saya tetap memelihara gejolak dalam diri agar tetap positif ?
atau mungkin sekedar.. masih bisakah saya tidur nyenyak malam ini ?

dia sedang berada dalam posisi tidak nyaman, bukanlah saya (sekarang)..
bukanlah (saat ini) orang lain yang mungkin bisa diacungi jempol karena semangatnya..
karena pantang menyerahnya, karena kekuatan dan keteguhan hatinya..

dia saat ini.. mungkin sedang (sementara waktu) menjadi orang yang butuh di dengarkan.. butuh di dampingi, butuh diayomi keluh kesahnya..
tapi memang tidak semuanya mengerti bagaimana keadaannya..
tidak semuanya bersedia memahami..

Saat itulah saya sepertinya bisa merasakan dengan hati saya..
sepersekian persen dari nilai sebuah ketulusan..
Keikhlasan..
Kesabaran..
Kekuatan..
Ketahanan diri..

untuk mendengarkan.. tidak hanya dengan telinga dan melihat sekedar dengan mata..
tidak semata-mata bereaksi dengan ketidaksetujuan yang langsung membuncah ketika menemukan bahwa sesuatu hal tidak sesuai dengan hati dan keinginan kita dalam berbuat.. berlaku.. bertindak..

ternyata.. itulah letaknya.. empati..
yang harus musti tidak bisa ditawar lagi.. tulus tanpa batas

Ketika kita mau membuka pintu hati kita untuk mendengar dan merasakan..
untuk menempatkan posisi kita pada tempatnya..
istilah kerennya : if i were you..

Bulan Suci Ramadhan.. moment ini sebagai pembawa hikmah untukku..
Ketika diluar sana orang mendengung-dengungkan : empati.. !!
sebetulnya.. tak jauh dari kita.. senantiasa ada dalam diri dan hati..
hanya saja, terlalu lama (mungkin) kita membiarkannya terkunci..

4 komentar:

Andri Kusuma Harmaya mengatakan...

Mbak mei,empati n simpati tuh lain ya?Bedanya dimana sih?Trus bagusan yg mana?

meyrinda mengatakan...

betul mba mei, menurutku empati membuahkan syukur, eh bener ga ya? *balik nanya* hehe

afifi mengatakan...

aku termenung bukan karena berfikir siapa yang pantas di empati dan siapa yang pantas memberi empati? tapi termenungku memikirkan email dari siapa yang bisa memberi inspirasi bu haji menulis "tulus tanpa batas"...

arielz mengatakan...

nice posting mbak
pencerahan buat saya
makasih bgt