19 September 2017

Dimana Bahagia Itu ?




Sejak menikah, kebiasaan menarik dan seringkali daku lakukan (kadang-kadang) adalah kepo'in kehidupan berumahtangga orang lain.
Lho ? Kok ? Astaghfirullah.. Bukan yang aneh2 lho yaa..
Maksudnya gini, jadi pemerhati jarak jauh,untuk niat baik saja,
untuk pembelajaraan buat diri sendiri kok..
Suka jadi pemerhati bersama suami, dan seringkali jadi bahan diskusi di waktu luang karena kami ingin ambil hikmahNYA.
Tujuannya agar supaya tambah bersyukur dan terus berusaha memperbaiki kondisi diri sendiri

Contohnya, sehabis ketemu teman lama suami yang dulunya seorang kembang kampus, putri dari keluarga berada yang taat beribadah, pintar, aktivis pula - kami langsung deh berdiskusi
Si Mbak ini, setelah mengalami masa dikejar2 banyak pria di kampusnya, akhirnya memilih menikah dengan seorang yg sederhana, sesama aktivis. Awalnya pernikahannya terlihat ideal, dengan 3 putra dan kehidupan yang berkah, tak ada kurangnya..
namun.. Tiba2 sang suami berniat berpoligami, dengan seorang bunda yang membawa 2 putra putri, usianya lebih tua pula.. Subhanallah..
Si mbak ini walaupun awalnya terkejut, akhirnya ikhlas mendukung dengan niat ibadah, kesadaran dan keshabaran semua itu adalah ikhtiar meneladani sunnah Rasul. 

Kini mereka hidup berdampingan, termasuk dengan keluarga istri yang baru tersebut. Apakah semua baik-baik saja ? #disitusayakepo..
Kok bisa yaa seikhlas itu ? Bahagia kah mereka ?
Nyatanya setiap kondangan, atau acara2 lainnya, si Bapak itu selalu hadir dengan kedua istrinya, keduanya sama manisnya, sama shalihatnya, sama ramahnya.
keduanya terlihat rukun, kompak, hadir pula bersama putra putrinya
dan.. Pokoknya walo nggak biasa, menarik juga mengamatinya..
Apakah mereka bahagia ? Bagaimana Dalam hati ?
Jawabannya, Hanya mereka dan ALLOH yang tahu..

Dan Ini juga yang jadi bahan pembicaaran dengan suami.
Intinya :
Yaah, jika mau belajar mentaati Rasul harus siap dengan segala konsekwensinya, karena kita bukan Rasulullah kan yaa ? Demikian hasil #kepo kami

Cerita lagi,
Sahabat suami yang lain lagi.
Si mbak ini wanita karier sukses, kepala cabang sebuah bank di satu wilayah di Jakarta. Tapi belum juga ketemu jodohnya. Ndilalah suatu hari ketemu anak muda yang usianya lebih muda beberapa tahun darinya. Tipe cuek, antimainstream, entrepreneur pemula yang slebor, jujur, apa adanya, tapi masyaAlloh pemahaman agamanya cukup bagus hingga bisa menjawab pertanyaan2 dan kegalauan si mbak ini tentang arti kehidupannya.
Singkat kata, karena merasa klop, akhirnya mereka menikah.
Si mbak resign dari kantornya, meninggalkan jabatannya, mulai dari nol membantu suami merintis usaha kerajinan di daerah, bahkan mereka memutuskan tinggal diluar Jawa !
Bahagiakah mereka ? Wah, kami berbaik sangka.. InsyaAlloh iya.
Dikaruniai 3 putra putri yang manis dan dari foto-foto di akun facebooknya, tercermin senyum yang lepas dan sorot mata berbinar dari keluarga ini. Alhamdulillah, sampai sekarang

Kemudian kisah selanjutnya adalah tentang sahabat yang jarang bertemu, tapi semoga selalu dekat di hati.
Suami istri ini punya andil besar dalam perjalanan hidup kami, keikhlasan mereka membantu suami saat merintis usaha di Jogya dulu, dari awal sd akhirnya mendampingi di masa sulit, support yang mereka lakukan tetap sama.
Mas dan mbak ini awalnya teman organisasi, dan si mbak yang baik hati ini selalu jadi teman curhat mulai dari masalah kuliah, aktivitas kampus, hingga curhat2 pribadi lainnya. Lama2 si Mas-nya sadar, bahwa belio kok ternyata merasa ketergantungan yaa sama si Mbak ini, hehe..
Ya sudah, menjelang akhir kuliah, belio berdua bersepakat untuk menikah.
Hidup bahagia di kota yang mempertemukan mereka, berputra 3 orang ^ehm.. btw kok putranya 3 terus yaa dari tadi ? *lol
Sekilas mata memandang, penampilan si Mbak sangatlah sederhana dan apa adanya, beliau berasal dari keluarga sederhana pula.
Tapi jangan tanya soal kebaikan hatinya, seluas samudera
Sedang si Mas, bisa dibilang cukup cemerlang di masa itu.
Banyak yang terkejut dengan keputusan beliau berdua. Tapi sudah jodoh dan keduanya ikhlas menjalaninya, seiring berjalannya waktu terbukti bahwa perjodohan belio berdua adalah yang terbaik.
Keduanya bisa saling mengisi dengan kelebihan dan kekurangan masing2.
Sekali lagi, hasil #kepo dan perenungan tentang ini, membuat saya terharu deh !

Ada lagi ?
Kebetulan masih family jauh,
Menikah dengan sesama teman lama sejak SMA, pasangan ini berputra 4 orang. Tinggal di kota kecil. Suaminya bekerja sebagai seniman. Melukis, memahat, membuat aneka kerajinan dan kerja apa saja dilakoni. Si mbak juga ikut aktif bekerja sebagai petugas penyuluhan kesehatan dan posyandu.
Standar kehidupan sederhana, kekurangan tidak, tapi berlebih pun tidak, biasa saja. Yang mengharukan, beliau berdua punya visimisi yang sama dalam menentukan pendidikan anak.
Kompak dan satu kata, anak2 harus bersekolah di ponpes.
Tapi untuk sisi kehidupan lainnya, Qodarullah jodoh belio berdua tidak panjang.
Setelah akhirnya memutuskan berpisah baik2, kini sang Mbak hidup bersama anak2nya, dibesarkan anak2nya dengan keshabaran dan diupayakan rezeki yang halal untuk mereka.
Kini sudah 2 putra yang lulus ponpes, bekerja sambil kuliah.
Bahagiakah mereka ?
Walau tidak se-ideal keluarga lainnya, namun saya berbaiksangka mereka bahagia.
Betapa sayang dan perhatian putra putri pada Ibunya, kadang menerbitkan keharuan melihat keluarga sederhana ini,
bukankah doa anak2 yang shalih yang kelak akan menjadi amal jariyah yang tak terputus mengalir bagi manusia ?
Semoga ALLOH selalu merahmati mereka

Kalau menelisik kisah murid2 suami lebih beranekaragam lagi.
Ada Anak muda yang ketemu istrinya karena makan di warung dan sang istri kebetulan keponakan pemilik warung yang ikut membantu disana.
Si istri ini membantu sebagai pengabdian ke paman bibinya, syukur2 dapat untuk tambahan uang saku kuliah walau bukan jadi prioritas utamanya.
Tapi jika lihat sekarang, nggak sangka deh si istri ini dulunya pelayan di warung.
Dia ibu muda yang shabar dan penyayang pada anak2nya, cantik sekali, baik sekali dan Alhamdulillah karena kondisi usaha mereka terus membaik, bisa dilihat juga penampilannya pun semakin menarik dipandang mata
Bahagiakah mereka ? InsyaaAlloh iyaa.. mereka masih sering berkirim salam pada kami, dan hampir tiap lebaran sempatkan mampir kerumah dengan putra putrinya yang terus bertambah jumlahnya setiap tahun ! Hehhehe...

Satu contoh,
Ada juga yang murid yang menikah dengan teman lamanya sejak SMP. Lulus SMA langsung menikah - alasan si suami : dilamar aja, takut diambil orang
Jatuh bangun perekonomian rumahtangga mereka alami bersama.
Kini berkat keuletan dan keshabarannya, usaha mereka semakin membaik.
Dari mulai merintis usaha ternak, tinggal di kampung daerah pegunungan yang ndeso dan jauh dari mana2, mengalami masa dikejar debt collector, sampai akhirnya kini mulai menanjak kembali.. Semua dilalui bersama.
Bahkan ketemu lebaran kemarin, berputra 5 orang tapi si istri kok yaa semakin muda saja kelihatannya ! Alhamdulillah yaa..
Kalau kata suami saya : insyaAlloh kehidupan mereka semakin bahagia

Dari semua contoh di atas, kesimpulan saya : jodoh itu benar2 rahasia ALLOH
Berjodoh dengan seseorang jika kita mau menerima segala kelebihan dan kekurangannya karena ALLOH - akan menempa kita untuk siap menghadapi bentuk kehidupan apapun kedepannya
Kalaupun jalan cerita jauh dari harapan - mungkin memang ALLOH inginkan hambaNYA jadi orang yang shabar.
Nggak apa bershabar sebentar sepanjang hidup, toh katanya hidup ini cuma sebentar kan ? Hanya sementara.. Bismillah..

Sambil terus menasehati diri : Jangan lupa, bukan hanya kesulitan dan kesedihan yang jadi cobaan pernikahan,
Kesenangan, kegembiraan bahkan kemurahan rezekiNYA, itu pun sejatinya adalah cobaan juga - yang harus terus didoakan, disyukuri dan dicari hikmahNYA untuk pembelajaran kita ke depannya.
Dan bila ditanya dimana bahagia itu ?
Pada hakekatnya bila kita mau terus belajar mengejar keridloan ALLOH, maka kita akan temukan bahagia yang sejati.
Itulah bahagia yang kekal, hingga akhir nanti.
Maka memang benar, bila ada ungkapan, bahagia itu sederhana saja.

Merenungi nasehat salah satu kakak ipar saya : bahwa bahagia itu bukan harus jauh mencarinya, tapi jika kita bisa mengelola kehendak diri, mau beramal, berbagi dan mau bersyukur terhadap apapun keadaan kita, maka disitulah bahagia ada !
Lalu, apakah saya sudah bahagia ? Alhamdulillah iiyaa...
Dan Bismillah, saya memutuskan untuk terus belajar menjadi bahagia
Semoga ALLOH meridloi dan kami pun selalu bersyukur,
Atas segala keberkahanNYA dunia - akhirat, aamiin3x Yaa Rabb.

Jodoh


Alhamdulillah.. akhirnya siang ini, daku kembali ke Jakarta 💜💜💜
Ya, akhir minggu lalu memang kuhabiskan di Jawa Timur, menghadiri pernikahan Andra dan Angget. Andra, sepupu kecilku yang sekarang sudah dewasa tentunya - sudah lulus Sarjana Kedokteran sejak setahun lalu, putri bungsu tante-ku, adik Mama yang no.3.

Begitulah, potret ideal yang diinginkan sebagian besar orang tua dan mungkin juga dicita-citakan hampir semua gadis remaja. Lulus kuliah, dapat gambaran yang jelas tentang karir dan masa depan, bertemu calon pasangan hidup yang direstui orang tua, dan menikah dengan acara resmi dan resepsi idaman yang sesuai keinginan.. diiringi doa restu handai taulan, sanak family.. semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah.. aamiin Ya Rabbal'alamiin.. 

Hmm.. Jodoh..
Sebagaimana rezeki, lahir, maut yang pasti akan dialami setiap orang, jodoh itu misteri yah..
Ada yang sudah sekianlama menanti, tapi jodohnya belum juga menghampiri.. ada yang seakan sudah bertemu pasangan hidup, menikah beberapa lama tapi rupanya jodohnya tiada berlanjut.. Ada yang berjodoh ideal, saling kasih sayang dan mengayomi tetapi rupanya Yang Kuasa punya rencana lain, jodohnya tiada panjang usia.. Ada pula pasangan yang beruntung dapat mengayuh kehidupan bersama, hingga usia lanjut, dapat melihat anak keturunannya bertambah banyak dengan limpahan rezeki dan berbagai barokah kehidupan. Alhamdulillahirabbil'alamiin..

Pernikahan yang dilaksanakan di kota kecil Madiun tersebut, dengan tetamu yang berasal dari wilayah sekitarnya : Madiun, Ponorogo, Magetan, Ngawi, Caruban dll,, bahkan ada juga yang datang dari Blitar, Malang, Surabaya, Solo, dan Jakarta. Menghadiri pernikahan Andra - Anggit kemarin pun, bagai membuka 'portal waktu' bagiku. Banyak jumpa saudara-saudara yang bertahun-tahun tiada bertemu. Yah, kami sama-sama sudah menua.. Anak keturunan pun semakin tumbuh besar.

Berbagai cerita yang hadir sungguh bagaikan kejutan-kejutan kecil. Keponakan yang dulunya pemalu pendiam, sering 'ngumpet' di belakang ibunya, tak terasa kini sudah lulus kuliah, tampil cantik dan percaya diri.. " Lagi ngelamar-ngelamar kerjaan.. habis wisuda bulan lalu.." seloroh sang Ibu dengan bangga. Ada juga, keponakan yang dulu kutunggui kelahirannya di RS Harapan Kita, sekarang baru saja melahirkan anak pertamanya. Waktu terus berlalu.. dan tak sedikit pula saudara-saudara yang terkejut, buntutku 3 putri ternyata sudah beranjak remaja - bahkan anak pertamaku sudah memasuki bangku kuliah. "Wah, sebentar lagi mantu dong ya.. " seloroh beberapa saudara menggodaku.
Biasalah.. banyak orang mengatakan, punya anak perempuan itu, jika sudah akil baligh, biasanya ada kemungkinan lebih cepat dilamar hehehe...

Terlintas ingatanku pada sekitar 21 tahun yang lalu - betapa diri ini pun tak menyangka.. mahasiswi yang suka sok sibuk di kampus, sangat suka sekolah dan punya cita-cita sebagai wanita karir ternyata ditakdirkan ketemu jodoh di semester 6 perkuliahannya. Jodoh yang datang tiba-tiba, tak terlintas sedikit pun untuk menjadi teman hidup selamanya.. dan berbeda usia 13 tahun pula ! 😃
Tapi itulah jodoh, rahasia hidup. Khawatir tidak akan bertemu orang lain sekualitas beliau, didukung doa restu orang tua dan keluarga besar kedua pihak.. Bismillahirrahmanirrahiim.. dan itu adalah salah satu keputusan terbaik dalam hidup ini, yang terus kusyukuri hingga hari ini dan insyaaAlloh selamanya #ehm.. 💙💙💙

Dan pilihan terhadap jodoh pula yang membawa banyak konsekwensi dalam kehidupan seseorang. Namun sesungguhnya, jika kita memaknai bahwa sejatinya kehidupan adalah untuk semata-mata menjalankan ibadah pada Sang Maha Pencipta - demikian juga jika memaknai setiap konsekwensi hidup yang harus kita jalani adalah merupakan ibadah itu sendiri, insyaaAlloh kita akan lebih ringan menjalankannya. Nilai ibadah yang berlandaskan kesyukuran, dan semoga senantiasa bertaqwa pada Alloh SWT tentu akan lebih ringan #myselfreminder

Bertemu jodoh, memilih jodoh, menentukan jodoh adalah rahmat.. anugrah dan rezeki yang mungkin kehadirannya tidak selalu indah, atau tidak sama tepatnya pada setiap orang. Sejatinya bertemu jodoh itu pun juga merupakan bagian peranan manusia, tentang bagaimana ia akan membentuk/menjalani kehidupannya kemudian. Apakah dengan hadirnya jodoh, ia kemudian semakin dekat dan bertaqwa pada Alloh SWT - atau justru sebaliknya ? Dengan kehadiran jodoh - teman hidup pasangan jiwanya, justru ia semakin tenggelam dengan dunia dan semakin 'asing' dengan Rabb-Nya ?

Subhanallah.. Astaghfirullah..
Terus panjatkan doa dan harapan yang tak putus.. semoga dengan jodoh pendamping hidup kita, atau yang kelak akan bertemu.. adalah sebaik-baiknya anugrah demi meraih keridloan Alloh SWT..
InsyaaAlloh.. semoga jodoh di dunia ini, terus diperkenankanNya untuk menjadi jodoh di akhirat kelak.. aamiin Yaa Rabb..  
















12 September 2017

Perjalanan



Tadi pagi mas Ridlo, suamiku mengingatkan, " Hayoo.. sudah hari apa sekarang ? Sudah Selasa lagi kan, nggak terasa.. !" 
Tuh kan.. Akhirnya lewat sudah satu minggu dari rencana semula untuk mengurus surat bebas narkoba dan untuk keperluan NIDN. Ceritanya, Alhamdulillah daku dapat panggilan untuk menjadi dosen tetap di satu universitas swasta. Salah satu persyaratannya adalah mengurus surat-surat tersebut. Yah.. itulah.. alasan selalu benar, kesibukan selalu ada.. 😁😁 sampai akhirnya dari rencana awal untuk mengurus surat-surat itu, molornya sampai 7 hari kemudian !
" Hari ini deh, kalo enggak nanti tiba-tiba sudah Selasa lagi, hehe.. " seloroh mas Ridlo.
" Anterin yaa.. "
" Okey, tapi pagi yaa, "
Aku setuju. Memang harus pagi, kalau tidak nanti akan terlalu panjang antrian disana. Dan senang sekali mas Ridlo tercinta mau meluangkan waktunya setengah hari ini untuk mengantarku. " Kalo diatas jam 14.00 nanti Mas sudah ada janjian, jadi bagus banget kalau bisa selesai sebelum Dzuhur, "

Bismillahirrahmanirrahiim.. akhirnya pk. 08.00 pagi meluncurlah kami ke RS Fatmawati, RSUD terdekat yang diberi kewenangan pemerintah untuk mengeluarkan medical check up dan rekomendasi bebas narkoba untuk NIDN. Sesampainya disana, setelah mengisi form dan membayar biayanya, kami diminta masuk ke ruangan dalam untuk kemudian mengantri mengikuti rangkaian pemeriksaan pada ruangan yang berbeda-beda. Mulai dari mengukur TB & BB, cek darah, cek urine, rontgen, pemeriksaan kesehatan secara umum, hingga akhirnya tibalah pada 2 sesi akhir yaitu wawancara dengan dokter psikiater dan kemudian mengikuti semacam psikotest mental/rohani - demikian istilahnya. Menurutku, 2 sesi ini yang paling menarik, juga cukup lama antriannya. Satu persatu peserta memasuki ruangan dokter untuk mengikuti wawancara.

Ternyata yang bertugas pagi ini adalah Dokter Ika. Psikiater yang cantik, tinggi semampai, berhijab syar'i dengan pilihan busana warna pastel bernuansa pink dan hijau tosca itu mempersilakanku memasuki ruangannya sambil tersenyum.
" Silakan bu, "
Percakapan mengalir, senang sekali ngobrol dengan Dokter Ika. Beliau lulusan FKUI 5 tahun diatasku, usianya kira-kira sekitar 47-48 tahun, tapi masih nampak awet muda. Kulitnya putih bersih nyaris tanpa riasan, dan senyumnya lembut sekali. Selain di RS Fatmawati, beliau juga bertugas di RS Dharmawangsa, Kebayoran Baru - JakSel. Apa saja yang diperbincangkan ? Awalnya membahas identitas pribadi, latar belakang keluarga, pendidikan, keluarga : suami, anak-anak, hal-hal yang disukai, pengalaman yang menyenangkan, cita-cita yang ingin diraih, juga pencapaian apa yang sudah diraih. Waah.. tentunya aku punya banyak cerita tentang itu ! hehe...
Bercerita tentang keseharianku, tidak bisa lepas dari cerita tentang sekolah kecilku dan juga aktivitasku di KoCAk bersama rekan-rekan relawan yang menyenangkan dan kocak-kocak 😃 Dan mengakhiri sesi bersama Dokter Ika, beliau memintaku menggambar di selembar kertas, yang mana di dalam gambar tsb mencakup 3 hal yaitu : orang, rumah dan pohon - serta 1 buah gambar benda atau apapun yang mungkin akhir-akhir ini sedang aku inginkan, atau aku cita-citakan. Jadilah aku menggambar pemandangan lengkap dengan gunung, matahari, jalan, orang, rumah dan pohon.

Dokter Ika bertanya.. mana yang paling kuanggap penting dari gambar tersebut, dan kenapa ?
1. Orang/manusia
Aku menggambar seorang ibu menggandeng anaknya sedang bermain di pinggir kolam yang berisi bebek-bebek berenang. di tangan si anak terdapat 2 buah balon.
Dimanapun kita berada, jauh ataupun dekat dengan rumah, keluarga harus dekat di hati. Jarak tidak akan dapat menghalangi kedekatan itu, karena kita selalu bisa memeluk suami, anak-anak dengan doa yang diucapkan dengan penuh cinta.
2. Rumah
Aku menggambar rumah dengan letak yang berada di seberang jalan dengan gambar orang. Artinya nih menurutku, rumah akan selalu menjadi tempat pulang yang dirindukan. Sesibuk apapun, kemanapun kita pergi, akhirnya kita akan selalu teringat untuk pulang ke rumah.
3. Pohon
Pohon kugambarkan ada disebelah rumah. Pohon jeruk yang berbuah, filosofisnya sih maunya.. rumah yang tenang, dikelilingi pepohonan.. jika ternyata pohonnya berbuah, itu rezeki buat penghuni rumahnya. Alhamdulillaah 💚💛💜

Satu gambar bebas lagi yang kupilih.. adalah gambar Masjid Al Aqsha.

Related image

Entah kenapa akhir-akhir ini keinginanku begitu besar untuk bisa kesana..
Sungguh mungkin bukan perjalanan yang menyenangkan, tapi perjalanan yang harus betul-betul diusahakan dari segi dana, harus yakin sehat dan punya waktu luang.. Tapi tetap harus yakin dan optimis, apalagi jika merenungi nukilan hadits riwayat Shahih Bukhari yang daku kutip dari artikel ini yaitu :
“la tasyaddurrahalu illa ilaa tsalatsah masaajid, Almasjidil haram, wa masjidirrasul shallallahu a’laihi wasallam, walmasjidil Aqsha” 
Jangan berusaha untuk mengadakan perjalanan atau memaksakan diri untuk mencapai kecuali 3 tempat yaitu Masjidil Haram, Masjidinnabiy dan Masjidil Aqsa. 

Maksud hadits tersebut bukanlah larangan untuk pergi ke masjid lain atau ke tempat lain tapi hadits ini dijelaskan oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari makna hadits ini adalah tasyjii’ wattarghib, laysa littahrim. Makna hadits ini bukan berarti seseorang itu haram pergi ke masjid lainnya akan tetapi memberikan semangat dari Rasulullah SAW, tidak ada tempat yang lebih baik dari dituju di muka bumi melebihi Masjidil Haram, Masjid Nabawiy dan Masjid Al Aqsa. 3 tempat termulia yang ada di muka bumi.
Jika diberikan keluangan rezeki, waktu, kesehatan.. insyaaAlloh kuat keinginan untuk membawa keluarga kesana.. Tak ada yang tidak mungkin.. Semoga Alloh SWT memudahkan yaa suatu hari nanti bisa menginjakkan kaki di bumi Palestina.. aamiin Yaa Rabb

Waah.. jadi nyerocos deh di depan Dokter Ika.. Duuh jadi malu.. Eh, tapi.. cerita saya yang terakhir ini ternyata membuat beliau terdiam beberapa saat..

" Ya bu, saya juga ingin kesana.. beberapa bulan lalu kakak saya berkesempatan ziarah ke Aqsha.. luarbiasa ceritanya, saya sampai menangis dengar cerita kakak saya.. dan kondisi masyarakat disana memang sedang sulit.., "
Suara Dokter Ika terdengar lirih. Wah Dok, kita ternyata sama-sama punya keinginan yang sama ingin melakukan perjalanan yang sama.. MasyaaAlloh..
Tak terduga hikmahNYA, rupanya Alloh SWT mempertemukan dua manusia dengan keinginan yang sama, pada suatu hari, di suatu tempat yang tidak terduga. Terimakasih Dok 😊 Kami berjabat tangan dan saling melontarkan senyum.

 

Selesai sesi Dokter Ika selanjutnya saya harus mengikuti test tertulis, semacam psikotest mental/rohani. Soalnya ada sekitar 336 buah berisikan uraian apa pendapat kita tentang berbagai hal.
Keseharian, minat, pendapat pribadi, yang kesemuanya berkaitan dengan karakter kita. Kira-kira pendekatan secara psikologis. Sesudah menyelesaikan test tersebut, maka selesailah rangkaian medcheck hari ini. " Hasilnya minimal 5 hari kerja yaa bu, " demikian penjelasan Ibu admin yang baikhati di frontdesk. Terimakasih bu 😍

Ringan langkah kaki ini keluar dari gedung medcheck rumah sakit. Dari kejauhan tampak samar-samar bayangan pria tercintaku, berkemeja biru duduk menanti di coffee shop tak jauh dari pintu keluar RS. Aku tersenyum menghampirinya. " Udah, yuuk, "

Alhamdulillahirabbil'alamiin.. kami pun meninggalkan halaman RS. Perjalanan pulang yang lancar, jalan tol hari ini lumayan lengang. Aah.. lagi-lagi kita harus menempuh perjalanan. Setiap hari. Panjang atau pendek jarak yang kita tempuh, tetap ada perjalanan yang kita tempuh. Bersyukur Dia telah titipkan diriku pada suami tercinta, teman hidup untuk mengarungi perjalanan yang begitu berharga : “Fabiayyi 'aalaa'i Rabbikumaa Tukadzdzibaan” 
Semoga perjalanan kami terus hingga ke JannahNya.. Aamiin Yaa Rabb..








10 September 2017

Magnet


Sahabat, pernahkah merasakan hari-hari yang sepertinya begitu berat, hingga tanpa sadar kita merasa lebih lelah dari biasanya ?
Pikiran rasanya tersita oleh satu persoalan yang itu itu saja, tapi gundah karena tak bisa berbuat sesuatu. Keingintahuan begitu besar seiring harapan adanya jalan keluar yang terbaik.. tapi hanya bisa melihat, menanti, tak berdaya untuk berbuat banyak.. sementara ini baru bisa melakukan sedikit hal yang belumlah merupakan solusi terbaik, sehingga pikiran lagi-lagi terus mengarah kepada persoalan itu.. lagi.. dan lagi..
Yah.. Rasanya perasaan itu yang menjangkitiku beberapa waktu ini.

Hampir 3 minggu lamanya baru bisa menatap nanar dengan perasaan berkecamuk pada berita-berita tragedy kemanusiaan etnis Rohingya di Myanmar.. Dan bersamaan dengan itu seolah di benak ini terngiang-ngiang.. apa yang bisa dilakukan untuk Rohingya ? Tentu saja tidak bisa suatu aksi heroik nan bombastis, dan persoalan ini pasti tidak begitu saja selesai dalam hitungan beberapa tahun. Bisa jadi butuh satu dasawarsa, bahkan lebih untuk mengembalikan keamanan umat muslim disana.
Tapi sekedar 'sesuatu' yang pasti bisa dilakukan bersama.

Berbagai berita bagai sambung menyambung di media. Sosmed pun penuh like and share aneka foto dan postingan yang menyayat hati.. Orang-orang yang peduli mulai bergerak menyuarakan dukungan #SaveMoslemRohingya. Semua seolah bersepakat tanpa sebelumnya terikat perjanjian. Dan banyak yang tak ingin ketinggalan.

Seperti gambar ini yang seolah bercerita lebih banyak dari yang terlihat. Kisah tentang Erkan Ayhan, seorang warga di propinsi Kocaeli, Turki. Sebagaimana layaknya kepala keluarga yang setiap hari wajib berikhtiar menafkahi keluarganya, sehari-hari ia berjualan roti khas Turki yang berbentuk lingkaran dan bertabur wijen. Beberapa hari ini, seperti biasa ia tetap berjualan, namun ia mengenakan kaos bertuliskan kalimat-kalimat yang disablonnya sendiri :

Dunia Kejam, Arakan (Rakhine, Rohingya) Menderita. Tapi Kalian Masih Terdiam !


Sebuah status yang viral di beranda FaceBook Ustadz Azzam Mujahid Izzulhaq, bercerita tentang kisah yang mengharukan. Ayhan mendonasikan seluruh penjualannya selama 2 hari berjualan untuk menyumbang saudara-saudara muslim di Rohingya. Penghasilannya sebesar 147 Turkish Lira / USD 43/ Rp. 567.000 - seluruhnya diserahkan sebagai donasi. Kesedihan dan keprihatinannya begitu besar, seiring dengan rasa percaya diri dan ketaqwaannya.. "Allah SWT yang akan mencukupkan rezeki keluarga saya,"
Masyaa Alloh.. Dan itu baru cerita tentang seorang Erkan Ayhan dari Turki. Di dunia Internasional, gelombang unjuk rasa memprotes pemerintah Myanmar dan junta militernya terus bergelora. Negara-negara Asia dan Eropa semua menyerukan #SaveRohingya. Demikian juga di Indonesia.

Grup whatsapp Majelis Taklim teman2 SMP dan SMAku pun tak berdiam diri. Kebetulan mendekati jadwal rutin kajian bulanan, hari Ahad 10 September 2017. Teman-teman memberi ide dan sepakat itu merupakan saat yang tepat untuk menyerahkan donasi #SaveRohingya pada salah satu lembaga kemanusiaan yang kita percayai bersama. Hanya ada waktu 7 hari sebelum jadwal kajian tersebut.. Waktu yang teramat singkat untuk membayangkan nominal puluhan juta dapat terkumpul dalam waktu 7 hari saja.

Hari ke-5, Jumat pagi, donasi merambat ke angka Rp.10.000.000. Kami masih pantang menyerah.. tapi penyerahan donasi harus dipersiapkan. Moment terbaik harus didokumentasikan sebagai upaya pertanggungjawaban awal terhadap donatur yang telah percaya menitipkan donasinya pada Majelis Taklim Mudzaakarotul Ikhwaan (MTMI). Jumat sore, mock up tanda serah terima sudah harus naik cetak.. Bismillah, kami sepakat mencetak mock up dengan nominal donasi yang tertera sebesar Rp. 12.000.000.



Namun.. Allah SWT memang Maha Kaya dan Maha Pemurah, Pengasih dan Penyayang..
Donasi terus bergulir hingga pada hari Ahad/Minggu 10 September 2017, total donasi #SaveRohingya yang masuk ke rekening MTMI berjumlah Rp. 20.000.000an.. dan jumlah ini bisa dipastikan belumlah merupakan jumlah final, karena ada beberapa rekan yang masih bertanya-tanya tentang gerakan donasi yang kami lakukan.


Alhamdulillahirabbil'alamiin..
Sungguh suatu energi luar biasa yang mengalir, merasuk dan mewarnai setiap insan, hingga semua seolah memiliki kedekatan batin terhadap saudara-saudara muslim Rohingya. Tak ada yang menggerakkan, tak ada yang mampu membayar ghirah yang tak terbayangkan bisa menjadi rasa kebersamaan yang begitu besar.
Tua, muda, lintas negara, lintas agama, tiada terbatas oleh ruang dan waktu jika rasa kemanusiaan dan belas kasihan menjadi penghubungnya. Sebagaimana untaian hadits yang menyebutkan :

“Seorang mukmin terhadap mukmin (lainnya) bagaikan satu bangunan, satu sama lain saling menguatkan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan saling berempati bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam.” (HR. Muslim)

Rasulullah saw pernah ditanya oleh seorang sahabat, “Wahai Rasulullah kabarkanlah kepadaku amal yang dapat memasukkan aku ke surga”.
Rasulullah menjawab; “Engkau menyembah Allah, jangan menyekutukan-Nya dengan segala sesuatu, engkau dirikan shalat, tunaikan zakat dan engkau menyambung silaturahmi”. (HR. Bukhari)

Dari Hudzaifah Bin Yaman ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, ”Siapa yang tidak ihtimam (peduli) terhadap urusan umat Islam, maka bukan termasuk golongan mereka.” (HR. At Tabrani) 

--------

Demikianlah..
Magnet itu, adalah Rohingya...
Ibarat kutub magnet positif dan negatif yang saling tarik menarik.. semakin berbeda namun semakin terpaut, semakin lekat menuju kekuatan yang sesungguhnya tak terkalahkan. Hanya saja magnet itu masih perlu memastikan, memilah kutub-kutubnya benar-benar kutub yang sama kuat menuju tujuan : kemaslahatan umat manusia tanpa membedakan suku ras agama..
Kemaslahatan yang bukan sekedar ketentraman, kenyamanan dan keamanan, tapi kemaslahatan yang berwujudkan Rahmatan lil'alamin...
Allohul Musta'an.. aamiin Yaa Rabb..